Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Featured Posts

Minggu, 21 April 2013

Harga anak sapi

Turunnya harga anak sapi maupun harga sapi dewasa belakangan ini banyak membuat para pedagang sapi resah. Penurunan harga ini juga dirasakan para peternak. Para peternak sapi di jawa tengah mengeluhkan rendahnya harga jual sapi. Para peternak mensinyalir rendahnya harga anak sapi itu disebabkan beredarnya sapi impor di pasaran.  Udin peternak yang memiliki lima ekor sapi dewasa dan dua ekor anak sapi ini mengungkapkan harus melakukan pengiritan pakan untuk menyiasati kondisi tersebut, karena udin berencana memelihara lebih lama sebelum harga kembali naik, baru akan ia jual.  Saat ini harga anak sapi hanya mencapai Rp 2-3 juta per ekor untuk anak sapi usia 3-4 bulan turun dari harga sebelumnya yang bisa mencapai Rp 5 juta. Sementara, untuk sapi dewasa betina saat ini hanya dihargai Rp 4-5 juta dari harga semula Rp7-8 juta.

Rendahnya harga sapi ini juga dikeluhkan oleh para peternak di Desa kedungwungu, Kecamatan Todanan. Kepala Desa Kedungwungu, Bapak Soni mengatakan, hampir setiap warga di Desa Kedungwungu yang memelihara sapi mengeluhkan rendahnya harga sapi. Padahal hampir setiap warga di wilayahnya memelihara sapi untuk menambah penghasilan keluarga. Mereka banyak yang mengeluhkan rendahnya harga sapi ini, karena keuntungan yang diperoleh jadi tidak sebanding dengan biaya pemeliharaannya.

Harga anak sapi turun 30 persen
Harga anak sapi yang rendah ini tidak hanya dikeluhkan oleh para peternak. Para pedagang sapi pun mengeluhkan kondisi ini karena menyebabkan sulitnya menjual sapi. Anwar, salah satu pedagang sapi di Desa Kedungwaru , Kecamatan Kunduran, mengungkapkan rendahnya harga sapi itu sudah terjadi sejak sekitar Pertengahan bulan Februari ini. Ungkap Anwar “di daerah sini pada awal bulan Februari harga sapi masih wajar, tetapi sekatang tiba-tiba mengalami penurunan”. Harga sapi sekarang ini turun hampir 30 persen dari harga waktu masih normal. Seperti sapi betina dewasa biasanya bisa dijual Rp 8 – 10 juta, sekarang hanya bisa sekitar Rp 5 – 6 juta saja. Untuk anak sapi, dulu bisa Rp 4 – 5 juta sekarang hanya Rp 2,5 – 3 juta,” ujarnya. Rendahnya harga anak sapi tersebut disebabkan masuknya sapi-sapi impor ke Indonesia. Para pedagang berharap harga anak sapi, maupun harga sapi dewa segera kembali naik, agar mereka tidak merugi. Para pedagang yang sudah terlanjur membeli beberapa anak sapi terpaksa memeliharanya dahulu sambil menunggu harga kembali normal.

sumber buka-usaha.com

Tips sukses penggemukan sapi potong

Secara umum, kebutuhan sapi di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga tidak mampu dipenuhi oleh peternak lokal. Untuk menutupi kekurangan tersebut, akhirnya harus mengimpor dari luar negeri, terutama dari Australia. Kondisi ini tentu saja menjadi peluang emas yang tidak boleh disia-siakan oleh peternak lokal untuk membangun peternakan sapi. untuk memulai usaha ini tentunya harus mengetahui bagaimana tips sukses penggemukan sapi potong.

Usaha penggemukan sapi potong adalah usaha yang bagus dimana permintaan akan daging makin hari makin meningkat. Penggemukan sapi potong dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu sistem kereman, dry lot fattening, dan pasture fattening. Pakan yang digunakan dalam penggemukan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan diberikan 10% dari bobot badan, konsentrat 1% dari bobot badan, dan air minum 20−30 l/ekor/hari.

Peluang
1. Permintaan  daging sapi setiap tahun semakin meningkat
Konsumsi daging sapi di Indonesia terus mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2006 tingkat konsumsi daging sapi diperkirakan 399.660 ton, atau setara dengan 1,70−2 juta ekor sapi potong (Koran Tempo 2008), sementara produksi hanya 288.430 ton. Pemerintah memproyeksikan tingkat konsumsi daging pada tahun 2010 sebesar 2,72 kg/kapita/tahun sehingga kebutuhan daging dalam negeri mencapai 654.400 ton dan rata-rata tingkat pertumbuhan konsumsi 1,49%/tahun (Badan Pusat Statistik 2005) dikutip dari Suryana (2008). Populasi sapi potong pada tahun 2007 tercatat 11,366 juta ekor (Direktorat Jenderal Peternakan 2007), populasi tersebut belum mampu mengimbangi laju permintaan daging sapi yang terus meningkat. Hasil dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa produksi daging sapi dalam negeri belum dapat memenuhi permintaan, sehingga usaha penggemukan sapi potong masih memiliki peluang.

2.   Perputaraan modal relatif singkat
Usaha penggemukan sapi potong sangat mudah dilakukan karena sapi dipelihara sekitar 3 – 6 bulan, umur bakalan sapi yang dibeli sudah dewasa kelamin yaitu berkisar 1,5 tahun – 2,5 tahun terutama sapi jantan. Sapi jantan mempunyai pertambahan bobot badan lebh tinggi dibanding sapi-sapi betina (Siregar, 2007). Menurut Sugeng (1996)  mengatakan bahwa pada penggemukan sapi sistem kereman menggunakan bakalan sapi jantan umur 1 – 2 tahun dengan lama penggemukan 3 – 4 bulan. Lama penggemukan, jenis kelamin dan umur sapi yang dibeli berhubungan dengan perputaran modal, jadi semakin lama penggemukan maka semakin lama pula modal berputar.
3. Besarnya Keuntungan Usaha Penggemukan Sapi Potong
Besarnya keuntungan berhubungan dengan jumlah sapi yang dipelihara (Agromedia, 2011). contoh usaha penggemukan 10 ekor sapi potong selama 4-6 bulan dapat memberikan pendapatan bersih 10 – 15 juta rupiah. Belum lagi, keuntungan dari penjualan kotorannya sebagai pupuk kompos.
Kendala dan Solusi
 
Kendala :
  • Sulit memperoleh bakalan sapi berkualitas
  • Harga daging sapi potong di pasaran normal tidak sebanding dengan biaya pakan yang dikeluarkan
  • Kenaikan bobot badan sapi tidak optimal.
  • Sulit pemasaran sapi potong
Solusi :
  • Membeli bakalan sapi sendiri
  • Beli bakalan sapi yang memiliki recording atau peternak berpengalaman dan terpercaya.
  • Kita pilih jenis sapi yang sesuai dengan kondisi lingkungan tempat usaha kita (adaptasi yang bagus).
  • Memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan.
  • Lakukan survei ke pasar terrddekat untuk mengetahui cara menjual sapi di pasar tersebut
  • Cari informasi dari interrnet, teman dan pedagang sapi yang ada di pasar
  • Jika usaha sudah berjalan, para pembeli datang sendiri ke peternakan.

C. Hal yang harus dipersiapkan untuk tips sukses penggemukan sapi potong :
I. Kesiapan mental
Usaha penggemukan sapi potong merupakan usaha pemelihaan hewan yang harus betul diperhatikan dari pakan, kandang dan kesehatan. Ternak ini juga bisa mati, karena strees ataupun terkena penyakit, sehingga diperlukan kesiapan mental tentang resiko usaha ini dan tidak hanya memikirkan keuntungan.
II. Modal
Modal adalah sejumlah uang atau barang yang dikeluarkan untuk kegiatan-kegiatan pemeliharaan ternak diharapkan dapat menghasilkan ternak sesuai dengan keinginan sehingga dapat memberikan keuntungan. modal yang harus dalam usaha ini tidak hanya uang dan barang saja tetapi juga pengetahuan tentang pemeliharaan ternak dan pemasaran.
III. Manajemen
Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, petnggerakan, pelaksanaan serta pengawasan dengan memanfaatkan ilmu dan seni agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Manajemen dalam usaha penggemukan sapi potong terbagi menjadi 2 yaitu: manajemen pemeliharaan dan keuangan. Manajemen pemeliharaan meliputi : pemilihan bibit sapi, pakan dan minum, kandang, kesehatan, pemsaran, sedangkan untuk manajemen keuangan berupa : kas, laporan penjualan, rugi laba dan aktiva pasiva. Hal ini dilakukan 1) untuk memudahkan kita melihat perkembangan usaha ini, 2) memudahkan kita dalam mengajukan tambahan pinjaman modal. 3) keuntungan yang kita terima min 50% untuk menambah modal.
A. Manajemen Pemeliharaan
a. Pemilihan bibit sapi
Pemilihan bibit sapi, yaitu harus memperhatikan:
1. jenis bangsa sapi
Beberapa jenis sapi yang bagus untuk tuujuan usaha sapi potong, yaitu: sapi PO, sapi Bali, sapi Madura, sapi PFH, sapi Limousin dan sapi Simental. jika kita memilih jenis dan bangsa sapi harus juga melihat modal dan ketersediaan pakan. jika ketersedian pakan di lingkungan sekitar dekat dengan home industri (tahu dan tempe), penggilingan padi, tanaman palawija dan pasar  maka sapi yang digunakan adalah sapi jenis limousin dan simmental, sapi PO sangat bagus dilingkungan yang ketersedian pakan yang rendah (hanya bisa memanfaatkan limbah pertanian).
2.Recording
Recording yaitu data atau catatan perkawinan yang dilakukan sapi yang bertujuan untuk menghindari perkawinan sedarah ( In Breeding ) sehingga kualitas keturunan sapi tersebut menjadi turun, dan banyak terjadi kasus kematian sapi, kelahiran sapi dalam kondisi cacat.
3. Jenis kelamin sapi
Sapi jantan mempunyai pertambahan bobot badan lebih tinggi dibanding sapi-sapi betina (Siregar, 2007), karena pakan yang diberikan sapi jantan dewasa untuk pembentukan komposisi daging, lemak dan otot. Sapi jantan bagus untuk usaha penggemukan, sedangkan sapi betina khusus untuk indukan dan perah.
4. umur sapi berhubungan dengan lama pemeliharaan
Menurut Ahmad et al. (2004); Ferdiman (2007) yang dikutip dari Suryana (2008) meengatakan bahwa  sistem ini, sapi muda (umur 1,50−2tahun) dipelihara secara terus-menerus di dalam kandang dalam waktu tertentu untuk meningkatkan volume dan mutu daging dalam waktu relatif singkat. Berdasarkan umur sapi yang akan digemukkan, lama penggemukan dibedakan menjadi tiga (Sugeng 2006) yang dikutip dari Suryana (2008), yaitu: 1) untuk sapi bakalan dengan umur kurang dari 1 tahun, lama penggemukan berkisar antara 8−9 bulan, 2) untuk sapi bakalan umur 1−2 tahun, lama penggemukan 6−7 bulan, dan 3) untuk sapi bakalan umur 2−2,50 tahun, lama penggemukan 4−6 bulan.
5. performans sapi (tidak cacat)
Performans adalah bentuk tubuh sapi baik dari kepala, badan, kaki dan ekor. Ciri sapi yang sehat yaitu:
  •  Aktif, sigap, sadar dan tanggap terhadap perubahan situasi disekitarnya.
  •  Kondisi tubuhnya seimbang, tidak sempoyongan/pincang, langkah kaki mantap dan teratur, dapat bertumpu dengan empat kaki dan posisi punggung rata.
  • Mata bersinar, sudut mata bersih, tidak kotor dan tidak ada perubahan pada selaput lendir/kornea mata.Kulit/bulu halus mengkilat, tidak kusam dan pertumbuhannya rata.
  • Frekuensi nafas teratur (20-30 kali/menit), halus dan tidak tersengal-sengal.
  • Denyut nadi (50-60 kali/menit), irama teratur dan nada tetap
b. ketersediaan pakan dan air
Keterseedian pakan dalam usaha penggemukan sapi perlu diperhatikan di lingkungan tempat yang akan menjadi usaha penggemukan, hal ini perlu dilakukan supaya pada musim kemarau sapi tidak kekurangan pakan maka perlu memperhatikan, yaitu:
dekat dengan persawahan / ladang / perkebunan
dekat dengan home industri (pembuatan tahu atau tempe)
memiliki lahan untuk ditanami rumput
dekat dengan pasar
Pemberian air minum diberikan secara ad libitum
c. Kandang
Kandang yaitu tempat tinggal ternak untuk berlindung dan berkembang biak. Kandang yang baik adalah tempat tinggal yang nyaman, aman (Bahan-bahan tidak melukai ternak) bersih dan sehat (sanitasi yang baik).  Beberapa tips sukses penggemukan sapi potong adalah berawal dari kandang yang baik.
Bentuk: individual permanen atau semi permanen.
Bangunan: terbuat dari bambu/kayu/bata plus semen dilengkapi ventilasi.
Perlengkapan: tempat pakan dan minum
Saluran sanitasi untuk tempat penampungan kotoran.
Lantai: kayu, tanah dipadatkan atau bata dan semen.
Alas: rumput-rumputan, atau karpet .
Atap: genteng atau alang-alang.
Ukuran (per 1 ekor): 2 x 1,5 x 2 m.
d. Kesehatan
Ternak sapi juga dapat sakit, penyakit yang sering diderita sapi yaitu (cacingan, masuk angin dan penyakit kulit) maka dari itu ternak harus dijaga kesehatan dengan 1) seminggu sekali diberi vitamin dan mineral, 2) obat cacing diberikan seminggu sekali, 3) kebersihan kandang dan sanitasi, 4) penyakit kulit: a) ternak 3 hari sekali dimandikan, b) dibersihkan lukanya, c) diberi salem penyakit kulit untuk ternak.
B. Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan ini merupakan catatan data laporan keuangan berupa : aliran kas, laporan penjualan, rugi laba dan aktiva pasiva. Hal ini dilakukan 1) untuk memudahkan kita melihat perkembangan usaha ini, 2) memudahkan kita dalam mengajukan tambahan pinjaman modal. 3) keuntungan yang kita terima min 50% untuk menambah modal.
C Pemasaran
Pemasaran usaha penggemukan sapi potong dapat dijual ternak hidup atau sudah diolah (bakso, dendeng sapi, abon sapi, sosis) dan kotoran sapi.
Ternak hidup dijual, yaitu dengan cara, lakukan survei ke pasar terdekat untuk mengetahui cara menjual sapi di pasar tersebutCari informasi dari internet, teman dan pedagang sapi yang ada di pasar.

sumber buka-usaha.com

Minggu, 17 Maret 2013

Tips pakan sapi dengan ampas tahu

Ampas tahu adalah hasil ikutan proses pembuatan tahu, dengan kandungan protein kasar yang cukup tinggi yaitu sekitar 21%. Jika digunakan sebagai pakan tambahan, ampas tahu dapat melengkapi protein dari pakan hijauan.

Ada banyak penelitian mengenai penggunaan ampas tahun sebagai pakan ternak sapi. Salah satunya adalah BPTP Sumbar,  yang menguji efek pemberian ampas tahu terhadap ternak sapi. Percobaan ini menggunakan sapi jenis Simental yang berumur 2,5 tahun sampai 3,5 tahun dengan berat badan berkisar 350-600 kg. 

Komposisi  pakan yang yang diberikan untuk 1 ekor ternak sapi/hari adalah  2 kg ampas tahu dicampur dengan  2,5 kg konsentrat (yang terdiri dari dedak halus 50 kg, jagung halus 22 kg, tepung ikan 5 kg, mineral 2 kg dan garam 1 kg).  Setelah jadi, komposisi pakan ini dibagi menjadi dua. Masing-masing bagian diberikan kepada ternak sapi pada pagi dan sore hari, dipadu dengan pakan hijauan (jumlahnya sekitar 10% dari berat badan) yang diberikan 2 jam sesudahnya. 

Dengan metode seperti ini, pertambahan  berat badannya sekitar 0,8 kg/ekor/hari, lebih tinggi daripada pertambahan berat ternak sapi yang diberi pakan konsentrat dan hijauan saja. Untuk lebih jelasnya, silahkan download informasi mengenai "Penggunaan Ampas Tahu dan Pengaruhnya Pada Ternak Ruminansia"


Sumber : sumbar.litbang.deptan.go.id

Sabtu, 28 Januari 2012

Penerapan Bioteknologi Reproduksi pada Sapi Perah

Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir
Melanjutkan tulisan tentang Bioteknologi Reproduksi, bahwa masih terdapat fenomena mengapa sapi perah produksi tinggi sulit berkembang biak. Beda dengan fenomena 1, 2 dan 3 yang berhubungan dengan sistem hormonal atau endokrinologi reproduksi. Pada fenomena 4 ini berhubungan dengan perubahan beban fisiologis sapi perah sehubungan dengan produksi susu yang tinggi itu. Adapan lebih jelasnya adalah sebagai berikut.


(4). Dalam menjalankan atau menjalani satu siklus reproduksi (satu calving interval) sapi perah. Setelah melahirkan sapi memasuki periode laktasi dan 'days open'. Hari kosong yang lamanya 2 minggu ini uterus mengalami involusi, kembali ke normal mempersiapkan bunting berikutnya. Terdapat 2 beban fisiologis pada periode ini adalah beban fisiologis untuk hidup pokok dan laktasi. Setelah dua bulan sapi harus bunting lagi dan memasuki awal puncak laktasi, sehingga menanggung 3 beban fisiologis, yaitu hidup pokok, puncak laktasi dan bunting.

Memasuki bulan ke 7 kebuntingan sapi dikeringkan (kering kandang selama kira-kira 2 bulan), sehingga beban fisiologis menjadi 2 lagi yaitu hidup pokok dan bunting tua. Artinya selama satu kali siklus reproduksi yang lamanya kira-kira satu tahun, sebagian besar waktu hidup sapi yaitu sekitar 8 bulan harus menanggung 3 beban fisiologis sekaligus yang nota bene sangat berat menuju puncak laktasi dan bunting tua, apalagi sapi perah produksi tinggi.

Konsekuensi dari fenomena ini adalah harus tersedia pakan yang lebih dari cukup (meningkat lebih banyak dari biasanya) dan berimbang secara kwalitatif maupun kwantitatif. Meskipun manajemem mampu memenuhi kebutuhan pakan sesuai dengan perhitungan yang mungkin meningkat 2-3 kali dari biasanya. Perlu diingat bahwa kemampuan sapi menghabiskan pakan tidak sebanding dengan jumlah pakan yang harus dihabiskan pada periode itu. Selain tidak cukup waktu meskipun diberikan secara ad libitum, harus diingat bahwa sapi membutuhkan waktu untuk mengunyah ulang/memamah biak.

Di lain pihak kapasitas perut sapi juga terbatas, apalagi sudah terdapat sisa-sisa serat kasar pakan yang tidak tercerna dan menumpuk memenuhi sebagian rongga rumen sehingga kapasitas makin berkurang. Sebagai akibat adalah sapi mengalami malnutrisi dengan segala akibatnya penyakit defesiensi dan penyakit metabolik. Antara lain ketosis, hipokalsemia atau milk fever dan sejenisnya. Akibat lebih lanjut adalah paresis, paralisis sapi ambruk dengan segala komplikasi yang menyertai, diantaranya anoreksia, kembung, pneumonia
.

Kelihatannya 'aneh' sapi menderita nafsu makan menurun, akibat 'kekurangan' pakan. Tapi begitulah kenyataannya.Sangat sulit mengatasi kondisi semacam ini karena terdapat faktor kausatif yang komplek berakibat komplikasi. Ujung-ujungnya dari kasus ini adalah sapi harus dipotong paksa atau bahkan kedahuluan mati sia-sia.

Dapat disimpulkan bahwa sapi perah produksi tinggi, bukan hanya sulit berkembang biak tapi bahkan sulit untuk mempertahankan hak hidupnya. Karena itu jangan biarkan kasus itu terjadi, lebih baik mencegah daripada mengobati. Caranya adalah kurangi beban fisiologisnya dengan tidak memberi kesempatan bunting, tetapi tetap mempunyai anak keturunan, berikan status sebagai induk donor (induk genetis, induk biologis) melalui pemberdayaan penerapan bioteknologi reproduksi sebagaimana diuraikan pada tulisan terdahulu. (bersambung...)


Bioteknologi Reproduksi 

Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir
Rabu, 04 Maret 2009
   
 Terdapat fenomena alam yang juga menjadi tulisan oleh rekan sejawat sbb
1. Pada induk yang sedang laktasi khususnya sapi perah berproduksi tinggi, kadar hormon LTH atau prolaktin yang tinggi dalam darah mendorong terbentuknya corpus luteum (CL) persisten sebagai lanjutan dari CL gravidatum. Keadaan ini menyebabkan hormon progesteron meningkat sehingga tidak tumbuh folikel baru dan tidak diekskresikannya estrogen sehingga terjadi anestrus, dst (Mulianti. My life, myfeeling, my way. Blog Archieve for Juli 2007)
2. Puncak laktasi sangat berhubungan dengan produksi susu dan jumlah produksi susu memiliki hubungan positif dengan peningkatan hormon prolaktin. Kondisi prolaktin yang tinggi menyebabkan suasana progesteron meningkat sehingga estrogen menjadi rendah yang pada akhirnya berpengaruh terhadap aktualisasi estrus, dst (Bambang Hadisutanto. Study on Several Reproductive Performance of various Parities in Days Open Formulation of Fries Holland Dairy Cows. Case in Rural Dairy Farm, Lembang, west Bandung)
Kesimpulan : Dari dua pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa sapi perah produksi tinggi, sangat sulit untuk berkembang biak. dengan perkataan lain selama berproduksi mengalami infertilitas atau sub fertilitas. Sehingga tidak mungkin tercapai calving interval yang normal (kira-kira satu tahun).
3. Sapi perah produksi tinggi sulit berkembang biak juga dapat difahami selain karena proses pembentukan susu atau laktogenesis/milk production tsb diatas juga karena proses pengeluaran susu atau laktoscresis/milk letdown. Pada milk let down berhubungan dengan oksitosin. Logikanya semakin banyak produk susu yang harus dikeluarkan semakin tinggi oksitosin yang dibutuhkan. Di lain fihak oksitosin mempunyai target organ dalam kontraksi uterus. Kontraksi uterus yang intensif karena oksitosin yang tinggi inilah yang menggagalkan implantasi embrio, sehingga sulit bunting atau sulit berkembang biak.
Pada fenomena ke-3 bioteknologi reproduksi mampu mengatasi, sepanjang tidak keburu timbul fenomena 1 dan 2. Dalam arti sapi masih fertil menunjukkan gejala birahi yang baik dan di IB sesuai prosedur sebagaimana mestinya. Adapun caranya adalah sbb. Pada hari ketujuh (hari ke 0 birahi di IB) embrio yang telah jadi (morula, blastosis) dikeluarkan dengan metode flushing. Embrio yang diperoleh selanjutnya ditransfer ke sapi lain (sapi resipien) yang produksi rendah atau sapi potong lokal sekalipun. Sapi produksi tinggi (sapi donor) tidak bunting, tetapi mempunyai anak keturunan yang nota bene juga super genetik dikandung dan dilahirkan oleh sapi resipien. Sehingga sapi donor tidak bunting, tetapi berkembang biak. Lebih dari itu jumlah anak keturunannya menjadi lebih banyak dalam waktu singkat.
Kalau dalam satu siklus birahi (kira-kira 21 hari) diperoleh satu embrio menjadi seekor anak/pedet, maka dalam satu tahun 365 hari dibagi 21 hari dikali satu embrio akan diperoleh kira-kira 18 embrio atau identik 18 ekor pedet. Pada fenomena 1 dan 2 dapat diatasi dengan bioteknologi reproduksi generasi lebih tinggi yaitu kloning. Sementara ini biotekrep kloning belum terkuasai oleh SDM kita. Bahkan lebih dari itu produksi embrio kembar identik melalui spliting juga belum ada tanda-tanda berkembang minimal di institusi terapan/aplikasi ditempat saya bekerja. Saya belum tahu bagaimana kondisi di institusi peneliti dan akademisi dalam mengadopsi inovasi bioteknologi reproduksi ini. Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak rekanrekan sejawat, sudilah kiranya memikirkan hal ini.

Prospek Pengembangan Sapi Perah di Jawa Tengah

Kondisi peternakan sapi perah di Jawa Tengah

1. Populasi sapi perah pada tahun 2006 adalah 112.153 ekor, dengan produksi susu 78.231 ton serta jumlah peternak 28.400 orang (Laporan Tahunan Dinas Peternakan Prov. Jawa Tengah 2006).

2. Kualitas susu masih rendah dengan kadar lemak 2,91 %, SNF 7,69, TS 10,6, TPC < 5 juta. Rendahnya kualitas susu disebabkan karena rendahnya pemberian pakan konsentrat (kualitas dan kuantitas), hijauan, tata laksana / managemen pemeliharaan. 3. Harga susu di tingkat peternak Jawa Tengah pada saat ini telah mengalami peningkatkan dari harga Rp.1.450,-/lt
menjadi Rp.1.600/lt – Rp.1.900,-/lt, bahkan di koperasi “Andini luhur” sudah mencapai harga Rp. 2.700 /lt, rata-rata Rp. 2.300,-/lt. Perbedaan harga ini tergantung dari kualitas susu yang dilihat dari kandungan TS (Total Solid) dan TPC ( Total Plate Count) / kandungan bakteri di dalam susu segar. Pada saat ini TS tertinggi yang telah dicapai peternak kabupaten Semarang adalah 13,28 dan TPC antara 1,02 jt /ml sampai 5 juta /ml susu. Bahkan ada susu dengan TPC hanya 390 rb/ml susu.
Harga susu segar di Provinsi Jawa Tengah memang lebih rendah jika dibandingkan dengan harga susu segar di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat, (Jawa Timur dan Jawa Barat harga susu segar rata-rata Rp.2.500,- Rp.3.500,-). Salah satu penyebab rendahnya harga susu di Jawa Tengah adalah kualitas susu yang masih rendah dan belum adanya IPS sendiri, sehingga untuk menuju ke IPS yang terletak di Jawa Barat/ Jawa Timur membutuhkan ongkos transportasi yang cukup mahal.





4. Produktivitas ternak rendah, rata-rata 7 – 9 liter/hari, hal ini disebabkan karena kualitas bibit yang rendah dan bibit sudah tua, kualitas pakan rendah, managemen yang tradisional, calving interval panjang > 18 bulan.

5. Mata rantai tataniaga susu yang panjang, dari peternak ke loper (pengumpul), tempat penampungan sementara, Koperasi Unit Desa, GKSI dan terakhir ke IPS, sehingga mengakibatkan tingginya biaya pemasaran bagi peternak.

6. Diversifikasi usaha produk olahan susu/pengolahan pasca panen persusuan belum berkembang di daerah sentra susu, dalam upaya meningkatkan nilai tambah.

7. Peran sektor swasta (investor) di bidang persusuan (IPS) masih sedikit sehingga susu harus dipasarkan ke luar Provinsi Jawa Tengah

8. Kabupaten /Kota yang berpotensi pengembangan sapi perah adalah Boyolali, Semarang, Salatiga, Klaten, Kota Semarang, Kab Magelang, Banyumas, Sukoharjo dan Wonosobo.

Upaya-upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangka mengembangkan usaha peternakan sapi perah di Jawa Tengah antara lain:

1. Tahun 2004 pemerintah Jepang melalui The Project for Dissemination of Appropriate Dairy Technology Utilizing Local Resources telah memberikan bantuan yang berupa teknologi bagi peternak sapi perah guna meningkatkan produksi dan produktivitas sapi perah di Provinsi Jawa Tengah. Bantuan yang diberikan berupa Training of Trainer (TOT) untuk petugas dan peternak sapi perah di lokasi target area dan bantuan peralatan sesuai dengan kebutuhan peternak. Jumlah petugas dan peternak yang telah mengikuti TOT di Cikole sebanyak 53 orang. Berdasarkan hasil feasibility study oleh Tim JICA maka Kabupaten Semarang telah ditunjuk sebagai lokasi target area kegiatan yaitu Dusun Kemiri Desa Jetak Kecamatan Getasan.

2. Bantuan Demplot kandang model JICA di Kabupaten Semarang dan Boyolali (dari dana APBD I dan swadaya masyarakat dari tahun 2005 - 2007)

3. Melaluin dana APBD I dan APBN telah dibangun VBC (Village Breeding Center) antara lain di Kabupaten Boyolali, Semarang, Wonosobo, Kota Semarang, Klaten dan mendorong Kabupaen/Kota untuk mengalokasikan pust-pusat pembibitan pedesaan melalui dari dana APBD II maupun DAK. Peranan swasta antara lain ”Rowo Seneng” di Kec. Kandangan Kab. Temanggung untuk mengembangkan perbibitan dan budidaya sapi perah; Pondok Pesantren”Sabil Ul Khoirot” di Desa Butuh Kec. Tengaran Kab. Semarang juga telah mengembangkan budidaya sapi perah dimana hasil susunya telah dimanfaatkan untuk anak-anak pondok pesantren.

4. Bantuan ternak sapi perah baik dari pemerintah pusat/Ditjen Peternakan maupun dari pemerintah daerah Provinsi/ Kabupaten/Kota

5. Proses pembentukan Tim Persusuan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta

6. Disamping Koperasi Unit Desa yang tersebar di Kabupaten/ Kota jalur susu , tahun 1998 telah terbentuk Koperasi serba usaha “ Andini Luhur” yang telah mengangkat harga susu peternak di kabupaten Semarang yang diketuai oleh Bpk. Agus Warsito

7. Peran serta GKSI sebagai penyedia sapronak dan sebagai pengumpul serta pemasaran susu ke IPS.

8. Peranan perbankkan yang telah memberikan berbagai fasilitas kredit bagi usaha peternakaan sapi perah.

9. Pembentukan Pengurus Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) di Kota Solo yang diketuai oleh Bpk. H. Masngut Imam Santoso dan untuk Provinsi Jawa Tengah diketuai oleh Bpk. Agus Warsito dari koperasi “ Andini Luhur” yang berperan mengangkat peternak sapi perah di Indonesia.

10. Peran serta peternak sapi perah dan IPS yang peduli pada sesama (al. P Kasimin Kab. Wonosobo dengan menjual susu pasturisasi seharga Rp. 500,- untuk anak-anak sekolah TK dan SD di wilayah Kabupaten Wonosobo dan ternyata mempunyai dampak yang positif terhadap kecerdasan anak-anak sekolah ; perusahan susu Citra Nasional dll.

11. Berbagai sarana dan prasarana baik dari dana APBN dan APBD telah digunakan untuk pengolahan susu segar menjadi susu pasteurisasi.

Kendala yang masih dihadapi dalam usaha peternakan sapi perah :

1. Kualitas bibit yang masih rendah karena banyak bibit yang sudah tua sehingga
perlu adanya peremajaan bibit sapi perah
2. Kualitas pakan yang masih rendah dan belum optimalnya penggunaan pakan
lokal.
3. Penerapan teknologi yang belum merata disemua peternak
4. Susu segar merupakan bahan makanan yang mudah rusak, sehingga perlu
penangan yang cepat dan tepat.
5. Belum adanya IPS yang dapat menampung susu dari peternak.
6. Harga pakan jadi(konsentrat) yang dirasa masih cukup tinggi.
7. Belum adanya pabrik pakan jadi (konsentrat) yang dapat menjamin ketersediaan
pakan jadi secara kontinyu dan murah.

Peluang usaha peternakan sapi perah:
Selain susu segar yang diperoleh peternak sapi perah, daging juga diperoleh dari penggemukan sapi perah jantan serta kotoran untuk pupuk kandang dan biogas. Hal inilah yang mendorong peternak sapi perah untuk tetap mempertahankan usahanya dalam bidang peternakan sapi perah. Peran serta pemerintah, swasta serta perbankkan sangat diperlukan dalam mengembangkan usaha budidaya/ peternakan sapi perah untuk meningkatkan ketersediaan susu yang semakin tahun semakin meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk, konsumsi protein hewani dan kesejahteraan masyarakat. Serta untuk mendongkrak pendapatan peternak sapi perah yang selama ini relatif kecil. (sumber: disnak jawa tengah_Hal ini dipicu oleh kebijakan Uni Eropa dan beberapa negara penghasil susu yang mengurangi subsidi bagi usaha peternakan sapi perah, sehingga tidak ada insentif bagi peternak negara asing untuk mengembangkan usahanya. Kondisi ini menguntungkan bagi peternak sapi perah Indonesia karena akan terjadi peluang untuk meningkatkan posisi tawar kepada buyer susu dan industri pengolahan susu.
Usaha yang selama ini dilakukan oleh kelompok peternak (membentuk asosiasi), pemerintah daerah, koperasi, perguruan tinggi dan pemerintah pusat mencoba untuk “mengangkat” peternakan sapi perah mewujudkan hasil yang nyata, meskipun masih pada tahapan yang belum maksimal.

Kondisi peternakan sapi perah di Jawa Tengah
1. Populasi sapi perah pada tahun 2006 adalah 112.153 ekor, dengan produksi susu 78.231 ton serta jumlah peternak 28.400 orang (Laporan Tahunan Dinas Peternakan Prov. Jawa Tengah 2006).

2. Kualitas susu masih rendah dengan kadar lemak 2,91 %, SNF 7,69, TS 10,6, TPC < 5 juta. Rendahnya kualitas susu disebabkan karena rendahnya pemberian pakan konsentrat (kualitas dan kuantitas), hijauan, tata laksana / managemen pemeliharaan. 3. Harga susu di tingkat peternak Jawa Tengah pada saat ini telah mengalami peningkatkan dari harga Rp.1.450,-/lt menjadi Rp.1.600/lt – Rp.1.900,-/lt, bahkan di koperasi “Andini luhur” sudah mencapai harga Rp. 2.700 /lt, rata-rata Rp. 2.300,-/lt. Perbedaan harga ini tergantung dari kualitas susu yang dilihat dari kandungan TS (Total Solid) dan TPC ( Total Plate Count) / kandungan bakteri di dalam susu segar. Pada saat ini TS tertinggi yang telah dicapai peternak kabupaten Semarang adalah 13,28 dan TPC antara 1,02 jt /ml sampai 5 juta /ml susu. Bahkan ada susu dengan TPC hanya 390 rb/ml susu. Harga susu segar di Provinsi Jawa Tengah memang lebih rendah jika dibandingkan dengan harga susu segar di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat, (Jawa Timur dan Jawa Barat harga susu segar rata-rata Rp.2.500,- Rp.3.500,-). Salah satu penyebab rendahnya harga susu di Jawa Tengah adalah kualitas susu yang masih rendah dan belum adanya IPS sendiri, sehingga untuk menuju ke IPS yang terletak di Jawa Barat/ Jawa Timur membutuhkan ongkos transportasi yang cukup mahal. 4. Produktivitas ternak rendah, rata-rata 7 – 9 liter/hari, hal ini disebabkan karena kualitas bibit yang rendah dan bibit sudah tua, kualitas pakan rendah, managemen yang tradisional, calving interval panjang > 18 bulan.

5. Mata rantai tataniaga susu yang panjang, dari peternak ke loper (pengumpul), tempat penampungan sementara, Koperasi Unit Desa, GKSI dan terakhir ke IPS, sehingga mengakibatkan tingginya biaya pemasaran bagi peternak.

6. Diversifikasi usaha produk olahan susu/pengolahan pasca panen persusuan belum berkembang di daerah sentra susu, dalam upaya meningkatkan nilai tambah.

7. Peran sektor swasta (investor) di bidang persusuan (IPS) masih sedikit sehingga susu harus dipasarkan ke luar Provinsi Jawa Tengah

8. Kabupaten /Kota yang berpotensi pengembangan sapi perah adalah Boyolali, Semarang, Salatiga, Klaten, Kota Semarang, Kab Magelang, Banyumas, Sukoharjo dan Wonosobo.

Upaya-upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangka mengembangkan usaha peternakan sapi perah di Jawa Tengah antara lain:

1. Tahun 2004 pemerintah Jepang melalui The Project for Dissemination of Appropriate Dairy Technology Utilizing Local Resources telah memberikan bantuan yang berupa teknologi bagi peternak sapi perah guna meningkatkan produksi dan produktivitas sapi perah di Provinsi Jawa Tengah. Bantuan yang diberikan berupa Training of Trainer (TOT) untuk petugas dan peternak sapi perah di lokasi target area dan bantuan peralatan sesuai dengan kebutuhan peternak. Jumlah petugas dan peternak yang telah mengikuti TOT di Cikole sebanyak 53 orang. Berdasarkan hasil feasibility study oleh Tim JICA maka Kabupaten Semarang telah ditunjuk sebagai lokasi target area kegiatan yaitu Dusun Kemiri Desa Jetak Kecamatan Getasan.

2. Bantuan Demplot kandang model JICA di Kabupaten Semarang dan Boyolali (dari dana APBD I dan swadaya masyarakat dari tahun 2005 - 2007)

3. Melaluin dana APBD I dan APBN telah dibangun VBC (Village Breeding Center) antara lain di Kabupaten Boyolali, Semarang, Wonosobo, Kota Semarang, Klaten dan mendorong Kabupaen/Kota untuk mengalokasikan pust-pusat pembibitan pedesaan melalui dari dana APBD II maupun DAK. Peranan swasta antara lain ”Rowo Seneng” di Kec. Kandangan Kab. Temanggung untuk mengembangkan perbibitan dan budidaya sapi perah; Pondok Pesantren”Sabil Ul Khoirot” di Desa Butuh Kec. Tengaran Kab. Semarang juga telah mengembangkan budidaya sapi perah dimana hasil susunya telah dimanfaatkan untuk anak-anak pondok pesantren.

4. Bantuan ternak sapi perah baik dari pemerintah pusat/Ditjen Peternakan maupun dari pemerintah daerah Provinsi/ Kabupaten/Kota

5. Proses pembentukan Tim Persusuan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta

6. Disamping Koperasi Unit Desa yang tersebar di Kabupaten/ Kota jalur susu , tahun 1998 telah terbentuk Koperasi serba usaha “ Andini Luhur” yang telah mengangkat harga susu peternak di kabupaten Semarang yang diketuai oleh Bpk. Agus Warsito

7. Peran serta GKSI sebagai penyedia sapronak dan sebagai pengumpul serta pemasaran susu ke IPS.

8. Peranan perbankkan yang telah memberikan berbagai fasilitas kredit bagi usaha peternakaan sapi perah.

9. Pembentukan Pengurus Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) di Kota Solo yang diketuai oleh Bpk. H. Masngut Imam Santoso dan untuk Provinsi Jawa Tengah diketuai oleh Bpk. Agus Warsito dari koperasi “ Andini Luhur” yang berperan mengangkat peternak sapi perah di Indonesia.

10. Peran serta peternak sapi perah dan IPS yang peduli pada sesama (al. P Kasimin Kab. Wonosobo dengan menjual susu pasturisasi seharga Rp. 500,- untuk anak-anak sekolah TK dan SD di wilayah Kabupaten Wonosobo dan ternyata mempunyai dampak yang positif terhadap kecerdasan anak-anak sekolah ; perusahan susu Citra Nasional dll.

11. Berbagai sarana dan prasarana baik dari dana APBN dan APBD telah digunakan untuk pengolahan susu segar menjadi susu pasteurisasi.

Kendala yang masih dihadapi dalam usaha peternakan sapi perah :

1. Kualitas bibit yang masih rendah karena banyak bibit yang sudah tua sehingga
perlu adanya peremajaan bibit sapi perah
2. Kualitas pakan yang masih rendah dan belum optimalnya penggunaan pakan
lokal.
3. Penerapan teknologi yang belum merata disemua peternak
4. Susu segar merupakan bahan makanan yang mudah rusak, sehingga perlu
penangan yang cepat dan tepat.
5. Belum adanya IPS yang dapat menampung susu dari peternak.
6. Harga pakan jadi(konsentrat) yang dirasa masih cukup tinggi.
7. Belum adanya pabrik pakan jadi (konsentrat) yang dapat menjamin ketersediaan
pakan jadi secara kontinyu dan murah.

Peluang usaha peternakan sapi perah:
Selain susu segar yang diperoleh peternak sapi perah, daging juga diperoleh dari penggemukan sapi perah jantan serta kotoran untuk pupuk kandang dan biogas. Hal inilah yang mendorong peternak sapi perah untuk tetap mempertahankan usahanya dalam bidang peternakan sapi perah. Peran serta pemerintah, swasta serta perbankkan sangat diperlukan dalam mengembangkan usaha budidaya/ peternakan sapi perah untuk meningkatkan ketersediaan susu yang semakin tahun semakin meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk, konsumsi protein hewani dan kesejahteraan masyarakat. Serta untuk mendongkrak pendapatan peternak sapi perah yang selama ini relatif kecil. (sumber: disnak jateng)

Sumber:
Pranowoblog » Blog Archive » Prospek Pengembangan Sapi Perah di Jawa Tengah

Dampak ekonomi kejadian brucellosis pada sapi perah di Indonesia

Dampak ekonomi kejadian brucellosis pada sapi perah di Indonesia
Saturday, 03 January 2009 12:33 Last Updated on Tuesday, 20 January 2009 15:39 Written by Wawan Nazaruddin. SKH
Oleh
Wawan Nazaruddin. SKH


PENDAHULUAN

Populasi sapi perah di Indonesia setiap tahun semakin meningkat, hal ini dipicu oleh kebijakan Uni Eropa dan beberapa negara penghasil susu yang mengurangi subsidi bagi usaha peternakan sapi perah, sehingga tidak ada insentif bagi peternak negara asing untuk mengembangkan usahanya. Kondisi ini menguntungkan bagi peternak sapi perah Indonesia karena akan terjadi peluang untuk meningkatkan posisi tawar kepada buyer susu dan industri pengolahan susu. Selain susu segar yang diperoleh peternak sapi perah, daging juga diperoleh dari penggemukan sapi perah jantan serta kotoran untuk pupuk kandang dan biogas. Hal inilah yang mendorong peternak sapi perah untuk tetap mempertahankan usahanya dalam bidang peternakan sapi perah.

Penyakit brucellosis merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada sapi perah dan merupakan penyakit yang penting karena dapat menimbulkan abortus dan tidak hanya itu penyakit brucellosis ini juga merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular kemanusia dan menebabkan penyakit undulant. Kejadian brucellosis cenderung semakin meningkat baik dari segi jumlah (tingkat prevalensi / insidens reaktor) maupun dalam penyebarannya (distribusi). Hal ini tentu sangat mengancam pertumbuhan peternakan (sapi dan kerbau).
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui penyebab dan kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit brucellosis.

TINJAUAN PUSTAKA

Kejadian penyakit brucellosis
Penyakit brucellosis merupakan penyakit ternak yang menjadi problem nasional baik untuk kesehatan masyarakat maupun persoalan ekonomi peternak. Di Indonesia kecenderungan meningkatnya populasi dan lebih seringnya mutasi sapi perah menjadi penyebab utama meningkatnya kasus brucellosis. Oleh sebab itu di Indonesia penyakit brucellosis dimasukkan dalam daftar penyakit menular yang harus dicegah dan diberantas sejak tahun 1959.
Di Indonesia, penyakit brucellosis dikenal pertama kali pada tahun 1935, ditemukan pada sapi perah di Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur dan kuman Brucella Abortus berhasil diisolasi pada tahun 1938. Penyakit brucellosis sudah bersifat endemis di Indonesia dan kadang-kadang muncul sebagai epidemi pada banyak peternakan sapi perah di Jakarta, Bandung, Jawa Tengah dan Jawa Timur (Putra, 2003)

Etiologi
Penyakit brucellosis, bangs disease atau penyakit abortus pada sapi disebabkan oleh Brucella Abortus (Gibbons, 1963). Secara morfologi, kuman Brucella. Spesies brucellosis yang lain diantaranya adalah Brucella suis dan Brucella meletensis juga dapat menyerang sapi, namun organisme tersebut biasanya hanya terbatas didalam system retikuloendotelial, serta tidak mengakibatkan gambaran penyakit yang jelas.

Klasifikasi
Kingdom :Bacteria
Filum :Proteobacteria
Class :Alphaproteobacteria
Ordo :Rhizobiales
Famili :Brucellaceae
Genus :Brucella
spesies :Brucella Abortus

Brucella Abortus bersifat Gram negatif, tidak berspora, berbentuk kokobasilus (short rods) dengan panjang 0,6 - 1,5 μm, tidak berkapsul, tidak berflagella sehingga tidak bergerak (non motil). Dalam media biakan, koloni kuman brucella berbentuk seperti setetes madu bulat, halus, permukaannya cembung dan licin, mengkilap serta tembus cahaya dengan diameter 1 - 2 mm. Pada pengecatan Gram, kuman terlihat sendiri-sendiri, berpasangan atau membentuk rantai pendek.
Secara biokimia, kuman Brucella dapat mereduksi nitrat, menghidrolisis urea, dan tidak membentuk sitrat tetapi membentuk H2S. Pertumbuhan bakteri memerlukan temperatur 20 - 40°C dengan penambahan karbondioksida (C02) 5 - 10% (Noor, 2006).
Kuman brucella bersifat fakultatif intraseluler yaitu kuman mampu hidup dan berkembang biak dalam set fagosit, memiliki 5-guanosin monofosfat yang berfungsi menghambat efek bakterisidal dalam neutrofil, sehingga kuman mampu hidup dan berkembang biak di dalam set neutrofil. Strain B. abortus yang halus (smooth) pada LPS-nya mengandung komponen rantai 0-perosamin, merupakan antigen paling dominan yang dapat terdeteksi pada hewan maupun manusia yang terinfeksi brucellosis . Uji serologis standar brucellosis adalah spesifik untuk mendeteksi rantai 0-perosamin tersebut.

Sensitifitas Bakteri
Bakteri brucella di luar tubuh induk semang dapat bertahan hidup pada berbagai kondisi lingkungan dalam waktu tertentu. Kemampuan daya tahan hidup bakteri brucella pada tanah kering adalah selama 4 hari di luar suhu kamar, pada tanah yang lembab dapat bertahan hidup selama 66 hari dan pada tanah yang becek bertahan hidup selama 151 - 185 hari. Menurut SUDIBYO (1995), kuman brucella dapat bertahan hidup selama 2 hari dalam kotoran atau limbah kandang bagian bawah dengan suhu yang relative tinggi. Pada air minum ternak, kuman dapat bertahan selama 5 - 114 hari dan pada air limbah selama 30 - 150 hari (Noor, 2006).

Cara penularan
Cara penularan penyakit brucellosis yang paling banyak adalah melalui air susu atau pakan yang tercemar oleh selaput janin atau cairan yang keluar dari rahim yang terinfeksi. Penularan bakteri brucellosis ini melalui jilatan dari sapi sapi tersebut, kemudian bakteri brucellosis dapat memasuki tubuh melalui selaput lender konjungtiva atau melalui gesekan kulit yang sehat. Untuk terjadinya infeksi melalui konjungtiva diperlukan kurang lebih 1,5 juta bakteri brucella.
Penularan dari pejantan yang terinfeksi brucellosis kepada induk betina dapat terjadi melalui kawin alami atau juga dapat melalui proses inseminasi buatan dilakukan lewat intra uterin dengan sperma yang mengandung brucellosis. Penularan penyakit brucellosis juga dapat terjadi melalui air susu induk yang diminum oleh pedet sapi, namun terjadinya infeksi melalui air susu tersebut sangat kecil sekali.
Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui saluran pencernaan, misalnya minum air susu yang tidak dimasak yang berasal dari ternak penderita brucellosis. Penularan melalui selaput lendir atau kulit yang luka, misalnya kontak langsung dengan janin atau plasenta (ari-ari/bali) dari sapi penderita brucellosis dapat juga menyebabkan penularan brucellosis pada manusia.

Patogenesis
Permulaan infeksi brucellosis terjadi pada kelenjar limfe supramamaria. Pada uterus, lesi pertama terlihat pada jaringan ikat antara kelenjar uterus mengarah terjadinya endometritis ulseratif, kotiledon kemudian terinfeksi disertai terbentuknya eksudat pada lapisan allantokhorion. Brucella banyak terdapat pada vili khorion, karena terjadi penghancuran jaringan, seluruh vili akan rusak menyebabkan kematian fetus dan abortus. Jadi kematian fetus adalah gangguan fungsi plasenta disamping adanya endotoksin. Fetus biasanya tetap tinggal di uterus selama 24-72 jam setelah kematian. Selaput fetus menderita oedematous dengan lesi dan nekrosa. (Hardjopranjoto, 1995).
Pada hewan jantan, infeksi akan diikuti oleh orkhitis yang kronis dan perlekatan antara tunika vaginalis testis, sel mani abnormal dan fibriosis yang kronis dari jaringan interstitial. Terjadi pengumpulan makrofag dan limfosit pada jaringan testis. Ampula dan vas deferent, terjadi nekrosa jaringan ikatnya. (Hardjopranjoto, 1995).

Gejala klinis
Gejala klinis dari penyakit brucellosis ini adalah abortus atau dimasyarakat dan peternak dikenal dengan nama keluron. Keguguran biasanya terjadi pada umur kebuntingan 6 sampai 9 bulan kebuntingan, selaput fetus yang yang diaborsikan terlihat oedema, hemoragi, nekrotik dan adanya eksudat kental serta adanya retensi plasenta, metritis dan keluar kotoran dari vagina (Anonim, 2008). Penyakit brucellosis ini juga menyebabkan perubahan didalam ambing. Lebih dari separo dari sapi-sapi yang titer aglutinasinya tinggi menunjukkan presentasi yang tinggi didalam ambingnya.
Selain itu juga penyakit brucellosis ini menimbulkan lesi higromata terutama pada daerah sekitar lutut. Lesi ini terbentuk sebagai regangan sederhana atas bungkus sinovia pada persendian, yang berisi cairan yang jernih atau jonjot fibrin maupun nanah. Kemungkinan terjadinya higroma akibat adanya suatu trauma kemudian kuman kuman brucella yang berada didalam darah membentuk koloni didaerah persendian tersebut (Hardjopranjoto, 1995).
Pada pejantan penyakit brucellosis dapat menyerang pada testis dan mengakibatkan orkhitis dan epididimitis serta gangguan pada kelenjar vesikula seminalis dan ampula. Brucellosis juga menyebabkan abses serta nekrosis pada buah pelir dan kelenjar kelamin tambahan. Sehingga semen yang diambil dari pejantan mungkin mengandung bakteri brucella abortus.

Penanggulangan dan pencegahan brucellosis
Pencegahan brucellosis pada sapi didasarkan pada tindakan higiene dan sanitasi, vaksin anak sapi dengan Strain 19 dan pengujian serta penyingkiran sapi reaktor. Tindakan higienik sangat penting dalam program pencegahan brucellosis pada suatu kelompok ternak. Sapi yang tertular sebaiknya dijual atau dipisahkan dari kelompoknya, kemudian fetus dan placenta yang digugurkan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang terkontaminasi harus didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejenis.
Program vaksinasi dilakukan pada anak sapi umur 3-7 bulan dengan vaksin Brucella Strain 19. Tapi penggunaan Strain 19 harus hati-hati karena dapat menyebabkan brucellosis atau demam undulan pada manusia (Anonim, 2008).
Metode pengendalian lainnya ialah vaksinasi dengan 45/20 terhadap semua ternak, uji serologik secara teratur dengan SAT atau BRT dan CFT, monitoring dengan MRT dan isolasi atau penyingkiran reaktor (Anonim, 2008). Pada umumnya di Indonesia prinsip pengendalian brucellosis adalah metode test and slaughter (uji dan potong) merupakan cara terakhir dalam program pemberantasan.

Kerugian yang ditimbulkan dari penyakit brucellosis
Penyakit brucellosis dapat menyebabkan kerugian secara ekonomi pada peternak sapi perah dan merupakan penyakit ekonomi pada peternakan yang merisaukan bagi peternak. Hal ini disebabkan karena penyakit brucellosis dapat menulari semua betina yang telah dewasa kelamin dan menyebabkan abortus sampai mencapai 90% dari seluruh sapi betina dewasa tersebut. Sapi betina yang telah terinfeksi brucellosis dapat mengalami abortus 1-2 kali, kemudian akan terjadi kebuntingan normal kembali, namun kebanyakan sapi sapi perah yang terinfeksi tersebut sukar untuk bunting kembali dan mengalami kemajiran yang total, terutama pada sapi yang mengalami retensi sekundinae. Dan dalam beberapa tahun kemudian, gejala abortus menjadi umum dikawasan ternak tersebut disertai dengan angka konsepsi yang rendah, sapi-sapi dikawinkan berulang kali tidak terjadi kebuntingan. Hal ini menyebabkan biaya produksi perusahaan peternakan menjadi tinggi. (Hardjopranjoto, 1995).

KESIMPULAN

Penyakit yang menyebabkan keguguran pada sapi perah disebabkan oleh bakteri brucellosis. Penyakit brucellosis ini menyebabkan keguguran pada trimester terakhir masa kebuntingan.
Penyakit brucellosis menimbulkan kerugian secara ekonomi pada peternak karena selain menyebabkan abortus pada induk yang sedang bunting, penyakit ini juga dapat menyebabkan sapi yang terinfeksi mengalami kemajiran total. Selain itu juga sapi yang terinfeksi brucellosis, produksi susu turun akan turun drastis.

Perencanaan Peternakan Sapi Perah

Oleh:
Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro

Susu merupakan bahan makanan asal ternak yang memiliki kandungan gizi tinggi. Hal ini mengakibatkan permintaan akan susu meningkat seiring dengan semakin bertambahnya populasi manusia setiap tahunnya. Saat ini sebagian besar susu di Indonesia masih harus diimpor (sekitar 70 %), sedangkan 30%nya di pasok dari produksi susu domestik yang sebagian besar dihasilkan oleh peternakan sapi perah rakyat (Purna, dkk. 2009). Selain itu, susu yang dihasilkan oleh peternak sapi perah Indonesia banyak yang tidak memenuhi standar IPS, sehingga banyak susu yang ditolak pabrik pengolahan susu. Tidak ada langkah lain selain membuang susu, dan hal ini tentu akan merugikan peternak Indonesia.



Sebagai generasi bangsa, setiap masyarakat Indonesia dituntut peran sertanya dalam pembangunan. Salah satu aspek penting dan vital bagi rakyat Indonesia adalah bidang pertanian, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bergerak dalam sektor pertanian, termasuk didalamnya subsektor peternakan. Langkah yang dapat dilakukan untuk mencukupi kebutuhan konsumsi susu masyarakat Indonesia adalah dengan banyak masyarakat yang membudidayakan peternakan sapi perah. Supaya peternakan sapi perah berjalan sesuai dengan tujuan yaitu memberikan produksi susu yang tinggi dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, maka diperlukan perencanaan yang matang sebelum memulai membudidayakan peternakan sapi perah.
Suatu usaha yang didasarkan pada rencana sebelumnya, hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan usaha yang dilakukan tanpa ada rencana sebelumnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan sapi perah adalah sebagai berikut:

  1. Merintis Usaha
Sebelum memulai usaha kita harus menentukan titik awal atau latar belakang kita berusaha, apakah usaha kita merupakan pendirian usaha atau pengembangan usaha. Jika pendirian usaha, maka perencanaan akan dimulai dari awal, sedangkan jika pengembangan usaha, maka perencanaan usahanya merupakan perencanaan lanjutan. Persiapan dalam merintis usaha yaitu harus memperhatikan:

  1. Aspek Umum yang umumnya terdiri dari sosial, budaya, tanggapan masyarakat, dukungan pemerintah, dan lain-lain,

  2. Aspek Ekonomi, yaitu berkaitan dengan analisis usaha yang nantinya apakah usahanya akan menguntungkan atau sebaliknya memperoleh kerugian. Sehingga aspek ekonomi ini merupakan aspek yang vital dalam perencanaan usaha peternakan sapi perah,

  3. Aspek Teknis Operasional yaitu aspek yang terkait dengan teknis dan lingkungan. Tanpa adanya aspek ini, maka produksi tidak dapat dihasilkan. Untuk memperoleh usaha yang menguntungkan, maka harus dimulai dari aspek teknis yang baik dan berkualitas.

  1. Rencana Kerja Usaha
Rencana kerja disusun setelah ada ide merintis usaha. Tahap ini merupakan tahap yang menentukan dalam awal usaha yang dilakukan. Rencana kerja dapat dibagi kedalam lima bagian, yaitu:
      Maksud dan tujuan usaha
Usaha peternakan sapi perah dijalankan sebagai usaha produksi susu saja atau ditambah dengan usaha pembibitan sapi perah. Kejelasan maksud dan tujuan akan memudahkan dalam kelanjutan usaha kedepannya.
Ternak yang akan diusahakan
Ternak yang diusahakan akan menggunakan jenis ternak tertentu, kemudian jenis kelamin tertentu dan harus dipastikan jumlah awal ternaknya berapa banyak atau jika pengembangan maka penambahan ternaknya harus diperhatikan berapa banyak.
Kandang dan Gudang
Hal ini disesuaikan dengan rintisan usaha, apakah akan membuat bangunan awal atau membuat bangunan tambahan.
Pakan
Pakannya harus dipantau ketersediaannya, sehingga terjadi kontinyuitas penyediaan pakan. Maka ternak dapat tercukupi kebutuhan pakannya baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Pasar
Usaha ternaknya harus mempunyai pasar yang baik. Jika pasarnya kurang baik, meskipun produksinya tinggi dan baik maka susu atau pedet tidak dapat dijual dan hal ini akan menyebabkan kerugian pada usaha peternakan sapi perah.
Rencana Penggunaan Modal
Rencana penggunaan modal juga merupakan aspek yang memiliki peran vital dalam usaha, karena tanpa modal usaha hanya akan menjadi rencana saja dan tidak dapat diaplikasikan. Modal usaha yang harus dikeluarkan dalam menyusun rencana usaha peternakan sapi perah yaitu:
Investasi

  • Kandang

  • Gudang

  • Perumahan

  • Peralatan pemerahan

  • Peralatan teknis pemeliharaan
        Biaya Tetap

  • Sapi betina (Laktasi dan kering kandang)

  • Sapi jantan

  • Pedet betina

  • Pedet jantan
Biaya Operasional

  • Pakan (Hijauan dan konsentrat)

  • Gaji karyawan

  • Obat-obatan

  • Penyusutan bangunan dan peralatan

  • Listrik

  • Penyusutan kematian ternak (sekitar 4-5 %)

  • Pajak

  • Biaya lain-lain.       
Perkembangbiakan ideal sapi perah
Sebelum memulai usaha, peternak atau pengusaha harus mengetahui perkembangbiakan sapi perah. Beberapa hal yang harus diketahui dan diperhatikan adalah sebagai berikut:

  • Lama kebuntingan 9 bulan

  • Masa kering kandang 2 bulan

  • Siklus birahi 21 hari

  • Lama birahi 2 sampai 3 hari

  • Umur afkir induk atau pejantan 8 sampai 9 tahun

  • Pedet betina diberikan susu sampai umur 4 bulan

  • Pedet jantan diberikan susu sampai umur 2 bulan

  • Pedet jantan dapat dijual setelah umur 1,5 sampai 2 bulan (Nugroho, 2008).
Langkah yang perlu dilakukan setelah usaha peternakan sapi perah berjalan adalah dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana target yang direncanakan tercapai. Sehingga dapat mengambil langkah preventif sebaliknya pengembangan pada usaha peternakan sapi perah. Hal ini tentu akan membantu mengurangi ketergantungan bangsa Indonesia akan impor susu. Siapa lagi yang akan membangun Indonesia jika bukan para penerus dan generasi bangsa.
 Sumber:
 Nugroho, C. P. 2008. Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 3. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta.
 Purna, I., Hamidi dan Elis. 2009. Permasalahan dan Kebijakan Pemerintah Di Sektor Perindustrian. www.setneg.go.id. Diakses 31 Mei 2009.